Friday, May 24, 2013

Tentang Bromo

Bromo, Mei 2013
Dear travelmate, lunas sudah janjiku tentang Bromo. 
Semoga saat kita membeku bersama menanti sunrise, berlomba mengeluarkan asap ajaib dari mulut masing masing, berbagi jagung bakar dan memamerkan gigi hitam, mengagumi hamparan kabut di kaki Batok dari bukit cinta, menunggang kuda bak pendekar dahulu kala, bermain pasir hitam yg tak pernah ada di tempat kita; menjadi kenangan hebatmu tentang ku, travelmate-mu...


May, Malang, Mom & Miss You

Malang, Mei 2013

Tugu, Mom, pangsit & es moka, kolang kaling toko Oen
Dear travelmate, terimakasih untuk ikut pulang ke kotaku, terimakasih untuk menemaniku melepas rindu & mengirim doa di pusara ibuku. 
Ini ku tunjukkan padamu tentang cantiknya kotaku, tentang gurihnya rawon - tahu campur - rujak cingur yg kau sebut "masakan jawa", tentang segarnya es kolang kaling kesukaanku, atau tentang bakso malang - pangsit mie dempo dan es moka yg terkenal itu. 
Menyenangkan bukan, di pagi hari kita bisa menikmati nasi jagung 5 ribu di depan rumah yang lezatnya dari dulu hingga sekarang masih tetap sama.

Ritual Menikmati Pagi

Bangkok, 4 Februari 2013
Pagi itu Harapan, dan Sore itu Kebersyukuran !. Ya, saya percaya itu. Coba lihat pada setiap langkah dan punggung orang-orang sekeliling di pagi hari, semua mengandung harapan walau dengan kadar yang berbeda. Mengamatinya sungguh menyenangkan, dan dari situlah Ritual Menikmati Pagi bermula. 
kopi, pagi, ransel, senyum mentari
Pagi itu, dengan mata yang masih sangat berat akibat kantuk yang belum tuntas, saya menjalani ritual 'menikmati pagi' di teras hostel yang sangat cantik. Di balik rimbunnya deretan tanaman pot di teras, mulai terpampang kemacetan kota Bangkok. Kantuk, macet, dan matahari pagi yg terasa menggigit, mengurungkan niat bergegas menyusuri sungai chao phraya sesuai jadwal hari itu. Untungnya kopi pahit dari cangkir mungil di hadapan saya mulai memberikan reaksi positif mengusir kantuk.
Kali ini tatanan meja- meja vintage di teras mencuri perhatian saya lebih. Warna cat turquoise nya yang pudar, lukisan bunga kamboja di atas meja, berpadu dengan lantai kayu dan tatanan pot-pot bunga lucu warna terakota, membentuk suasana dan kenyamanan yang berbeda. Tak sadar, kaki mulai bersila di atas bangku kayu yang ergonomis ini. Punggung bersandar nyaman, dan otak mencatat : Pagi 4 Februari 2013 saya nikmati di teras mungil cantik 'Shaphai Pae' Bangkok.

Thursday, February 21, 2013

Setelah Delapan Tahun


Jakarta, 1 Februari 2013
Perjalanan awal tahun ini saya awali dengan trip ke kota Bangkok. Jakarta sebagai kota transit perjalanan ini harus saya lewati semalam karena penerbangan ke Bangkok di awal pagi. Beruntung, sahabat lama yang akhirnya terkontak kembali dapat saya hubungi dan kamipun mengatur janji.  Untuk sebuah pertemuan kembali setelah DELAPAN tahun berlalu tanpa sedikitpun kabar berita, teorinya kami akan kehilangan banyak kata. Seharusnya ada kecanggungan yang terjadi dalam percakapan kami, namun anehnya justru canda tak henti yang mengalir. Pertanyaan 'mengapa' menjadi tidak penting kali ini. Rasanya cukup hati kami masing-masing yang menjawab dengan pengertian dalam diam. Ini sungguh pertemuan yang mengharukan sebenarnya, namun dibungkus erat tawa kami yg bahagia. 
Senang menemukanmu kembali, Sob !


Saturday, October 20, 2012

Belajar Masa Lalu Dalam Kekinian

Taipei, Januari 2012
Taiwan National Palace Museum

Baru kali ini di museum saya mampu bertahan lama. Fasilitas penunjang untuk 'belajar masa lalu' terutama bagi anak-anak, benar-benar di perhatikan, terlihat dari kid's center nya yang didesain sangat kreatif. Saya pun ikut tenggelam dalam aneka simulasi pembelajaran sejarah, tak mau kalah dengan anak saya, ini sungguh asyik ! 





Friday, October 19, 2012

Terdampar Di Museum - Kembali Ke Masa Lalu

Taipei, Januari 2012
Dalam daftar perjalanan kali ini, awalnya National Palace Museum Taiwan (NPM) termasuk dalam kategori tempat yang kalau sempat akan saya kunjungi, kalau tidak sempat ya sudah lah... dan memang pagi itu sebenarnya tujuan utama saya adalah ke bagian ujung utara Taiwan, mengunjungi daerah keajaiban alam Yehliu Geopark. Namun c
uaca dingin 10 drajat dan hujan dari semalam, mengurungkan niat saya, mengingat letaknya yang di pinggir laut dengan hembusan anginnya yang kencang, pasti dingin sepuluh derajat itu akan semakin terasa menggigit di kulit tropis ini. Akhirnya pagi itu saya memutuskan mengunjungi NPM. 
Bangunan NPM yang saya datangi, persis sama seperti yang saya lihat di google sebelumnya. Maaf, bangunannya buat saya, apalagi suami, sangat tidak menarik. Rasanya sama saja pergi ke bangunan berciri oriental yang ada di negri sendiri, bedanya di sini tidak mengaplikasi warna-warna mencolok. Tapi sebagai turis yang katrok, tetap saja kami bergaya dan berfoto di depannya, supaya suatu saat nanti kalau ada yang tanya sudah ke NPM, kami bisa menjawab sudah. Itu saja. 

Setelah puas berfoto, kami terus menapaki tangga demi tangga menuju bangunan utama yang letaknya di atas bukit, sensasinya hampir sama dengan menaiki anak tangga Borobudur, capek. 


Masuk ke Lobby utama, mulailah saya tercengang. Bertolak belakang dengan bentuk bangunannya yang sangat tradisional, lobby ini jauh dari kesan museum kuno tak terjamah. Lobby NPM benar-benar sebanding dengan lobby hotel bintang 5 plus plus. Besar, bersih, megah, mewah, canggih & luar biasa. Pengunjungnya sangat banyak dan berpakaian sangat high class (sambil melirik celana jeans dan sepatu crocs butut saya). Lumayan kagum juga melihat banyaknya pengunjung, jika sambil mengingat jumlah pengunjung museum di negri tercinta.
Sampai di sini, hati suami saya rupanya belum tergerak. Dia lebih memilih menemani putri saya bermain di kids centre, dan membiarkan saya masuk sendirian. Alasannya tiket mahal, padahal saya tahu dia masih memandang rendah koleksi di dalam, sama seperti saya yang beberapa kali kecewa dengan museum-museum sebelumnya yang pernah kami kunjungi, khususnya di negri sendiri. "Paling juga liat apa sih", gitu katanya.
Setelah membeli tiket yang desainnya keren, saya masuk melalui pemeriksaan x ray yang cukup ketat layaknya masuk ke bandara, dan dilarang membawa kamera. Weh, semakin penasaran, sekali lagi teringat museum di negri sendiri yang nasibnya jarang ditengok, sekali ditengok itupun rombongan sekolah yang memaksa muridnya supaya tau peninggalan bersejarah, kalau tidak ikut nanti tidak dapat nilai bagus, karcisnya paling mahal 5 ribu, modelnya sobekan seperti karcis parkir. 
Masuk pertama, saya langsung ke lantai dua tempat kategori keramik. Baru di persinggahan pertama, saya sudah terpaku pada satu koleksi bejana keramik berwarna hijau pucat yang sangat cantik. Melihat kondisinya yang mengkilap terawat, dilindungi case kaca canggih dengan pelindung keamanan dan infra red super, sepertinya tidak percaya kalau itu peninggalan Dynasty Song, lupa di tahun berapa. Berpindah dari satu koleksi ke koleksi lain semakin berdecak kagum. Seperti tidak percaya, saya menghadapi artefak-artefak kebudayaan tinggi China. Selain dibawa berdecak kagum dengan koleksi itu sendiri, saya dibuat untuk merenung betapa kompleks sebenarnya perancangan sebuah museum. Di museum ini saya ditunjukkan bagaimana desain pengamanan terhadap artefak, baik terhadap tangan jahil pengunjung, pencurian, temperatur yang dapat merusak, bahkan keamanan terhadap gempa. Bagi saya semua penyelesaiannya tidak hanya canggih, tapi cerdas !. Bagaimana tidak, selain faktor keamanan terhadap segala sesuatu itu, desain casing tetap diperhatikan secara detail. Miris teringat peninggalan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Kutai, yang dipajang 'sekenanya' di museum negriku... 
Di museum ini saya banyak dibawa masuk ke ruang-ruang berkategori dengan suasana temaram (yang ternyata juga terang tidaknya lampu mempengaruhi keamanan artefak dari segi keawetan, misalnya efek yang nantinya akan membuat pudar warna). Suasana temaram ini tetap membawa aura modern nan canggih, berbeda jika di museum kita temaram yang justru membawa aura mistis. 
Kecanggihan multimedia dimanfaatkan maksimal. Keterangan artefak dengan layar sentuh, audio penterjemah berbagai bahasa, ruang-ruang simulasi dengan animasi 3d yang top…. Sangat menarik. 
Di ruang keramik peninggalan Dynasty Qing, saya sempat dibuat menangis. Saya menyaksikan guci-guci berbagai desain dengan pola penataan monokrom, jadi misalnya peninggalan Dynasty Qing raja x, itu trendnya warna merah polos, diatur meraaaahhh semua, trus beranjak ke yang warna turquoise semua, putih semua, sampai ke yang bermotif-motif ramai khas China. Di sini lah saya menangis, mengingat almarhumah ibu saya yang nota bene penggemar guci China. Walaupun koleksi beliau tembakan semua, tapi beliau sangat mencintainya. Saya sempat bergumam, Mom saya sekarang di tempat yang seandainya mom ada di sini, tak terbayang bagaimana tatapan binar matanya melihat guci-guci kualitas terbaik di jamannya. Percaya tak percaya, saat itu saya mendadak seperti pakar guci terhebat sepanjang masa, saya bisa merasakan guci yang di hadapan saya ini benar-benar guci-guci karya seni terpilih raja-raja China saat itu, bukan guci tembakan seperti di rumah saya :) 
Di ruang pamer lainnya, tidak kalah menakjubkan. Saya melihat berbagai koleksi lukisan dan kaligrafi, kerajinan perunggu, buku dan dokumen. Bangsa China beberapa abad yang lampau memang 'gila' !... Saya terbengong-bengong menyaksikan berbagai lukisan yang panjangnya mungkin mencapai 10 m, mungkin itu bahannya dari kain sutra atau kertas, entahlah. Yang menakjubkan, lukisan itu kondisinya seperti cetakan jaman sekarang. Di ruang kaligrafi, saya masuk ke ruang audiovisual, di situ ada layar lebar, saya duduk seperti menonton layar tancap. Dilayar muncul huruf-huruf China satu persatu. Saya tidak mengerti maksudnya, tapi mungkin semacam menerangkan huruf-huruf China tersebut bermetamorfosis dari huruf-huruf lainnya. Walaupun tidak paham, tapi saya cukup lama duduk terbius memandangi perubahan-perubahan huruf kaligrafi tersebut. Suasana yang di bentuk benar-benar sebagai ruang belajar dan berkontempelasi, sangat cozy dan nyaman.
Tidak terasa 3 jam sudah saya menghabiskan waktu di dalam, belum semua koleksi saya lihat. Ini rekor terlama saya berkunjung ke museum dan belajar serius tentang koleksinya. 
Di rumah sepulang dari Taiwan, saya menonton di National Geographic Chanel tentang NPM, semakin kagum mengetahui sejarah panjang bangsa China menyelamatkan koleksi-koleksi Istana Terlarang Beijing dari perang dan bombardir Jepang. Jaman perang dunia kedua itu, China secara khusus mempekerjakan rakyatnya untuk mengusung ribuan koleksi artefak-artefak dari satu kota ke kota lain, sampai akhirnya oleh pemimpin nasionalis Chiang Kai Shek dibawa ke Taiwan, disembunyikan di gua yg dianggap aman dan kemudian saat ini disimpan di NPM dengan pengamanan yang sangat mengagumkan.